28 September 2013

GAMBARAN DARAH PADA IKAN PATIN Pangasius sp.


GAMBARAN DARAH PADA IKAN PATIN Pangasius sp.

DAN IKAN NILA Oreochromis sp.
Oleh : Ita Apriani


I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Darah dianggap sebagai jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri dari sel-sel yang terendam dalam plasma darah. Aliran dalam seluruh tubuh menjamin lingkungan yang tetap, agar semua jaringan sel mampu melaksanakan fungsinya. Kemudian, darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Peran penting darah di dalam tubuh yaitu sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, sebagai pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, ataupun sebagai pengangkut oksigen dan karbondioksida (Handayani dkk, 2011).

            Darah merupakan cairan terpenting dalam tubuh makhluk hidup. Darah mengangkut oksigen, hormon, nutrien, dan hasil buangan. Darah merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk melihat kelainan yang terjadi pada ikan, baik yang terjadi karena penyakit ataupun kerena keadaan lingkungan. Sehingga dengan mengetahui gambaran darah ikan kita dapat mengetahui kondisi kesehatan suatu organisme (Delman and Brown, 1989 dalam Prasetyo et al, 2008)

            Gambaran darah dapat menentukan kesehatan organisme budidaya. Diketahuinya faktor kesehatan ikan sangat penting guna mencapai suatu target yang diinginkan untuk mencapai suatu keberhasilan. Oleh karena itu, maka praktikum ini mempelajari mengenai gambaran darah dari sampel ikan yaitu ikan lele.

 

2.1 Tujuan
            Mengetahui gambaran darah pada ikan patin Pangasius sp. Dan ikan nila Oreochromis sp. yang meliputi SDM, SDP, Hc, dan Hb.


II. METODOLOGI

 

2.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 05 Maret 2012, pukul 07.00–10.00 WIB di Ruang Nutrisi, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

 

2.2 Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan adalah mikroskop cahaya, spuit, tabung ependorf, haemacytometer, pipet sahli, dan sentrifuge. Sedangkan bahan yang digunakan adalah ikan patin, ikan nila, Na Sitrat 3,8%, kapas beralkohol, larutan hayem, larutan turk`s dan akuades.

 

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Penganbilan Darah Ikan

            Ikan diletakkan dengan kepala menghadap ke kiri, alat suntik dibilas dengan Na-sitrat dan disisakan isinya 1/20 bagian. Darah diambil dari vena kaudal dengan cara jarum ditusukkan di atas antara anus dan sirip anal, tusukan horizontal kearah kranial sampai mengenai tulang vertebrate. Kemudian, jarum ditarik sedikit setelah itu penghisap jarum suntik ditarik sampai darah terhisap sebatas yang diinginkan. Setelah darah diambil, jarum dan alat suntik dicabut serta luka bekas suntikan ditutup dengan kapas beralkohol. Kemudian jarum dilepas dari spuit dan darah dimasukkan ke dalam tabung ependorf yang telah dibilas dengan Na sitrat 3.8%.

 

2.3.2 Kadar Hemoglobin

            Darah dihisap dengan pipet sahli sampai skala 20 mm3 atau pada skala 0,2 ml, ujung pipet dibersihkan dengan tissue. Darah dipindahkan kedalam tabung Hb-Meter yang telah diisi HCL 0,1 N sampai skala 10, kemudian diaduk selama 3 sampai 5 menit. Kemudian ditambahkan akuades sampai warnanya sama dengan warna larutan standar yang ada di dalam Hb-meter.

 

2.3.3 Hematokrit

            Salah satu ujung tabung mikrohematokrit dicelupkan kedalam tabung yang berisi darah sehingga darah akan merambat secara kapiler sampai volume ¾ bagian (sambil ditutup/dibuka). Kemudian ujung tabung tersebut ditutup dengan crytoseal dengan cara ujung tabung ditancapkan kira-kira sedalam 1 mm. kemudian tabung mikrohematokrit tersebut disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit dengan posisi tabung yang bervolume sama berhadapan dan yang bersumbat disebelah luar dan posisi tabung diatur hingga seimbang. Setelah itu, diukur panjang bagian endapan serta panjang total endapan cairan dan dipersentasekan panjang endapan dibanding panjang total endapan dan cairan dalam persen (%).

 

2.3.5 Sel Darah Merah

            Darah dihisap dengan pipet berisi bulir merah sampai skala 1, kemudian tambahkan larutan hayem sampai skala 101, kemudian diaduk membentuk angka delapan selama 3 – 5 menit sehingga darah tercampur rata. Setelah diaduk, dua tetes pertama dalam larutan dibuang dan selanjutnya diteteskan pada haemacytometer tipe Neubauer dengan gelas penutup. Kemudian dihitung pada 5 kotak besar.

 

2.3.6 Sel Darah Putih

            Darah dihisap dengan pipet berisi bulir merah sampai skala 0,5, kemudian tambahkan larutan hayem sampai skala 11, kemudian diaduk membentuk angka delapan selama 3 – 5 menit sehingga darah tercampur rata. Setelah diaduk, dua tetes pertama dalam larutan dibuang dan selanjutnya diteteskan pada haemacytometer tipe Neubauer dengan gelas penutup. Kemudian dihitung pada 5 kotak kecil.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Hasil

            Berdasarkan praktikum gambaran darah ikan yang telah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1. Gambaran darah ikan patin (Pangasius sp.) dan nila (Oreochromis sp.)

Kel
Ikan Patin
IKan Nila
SDM
SDP
Hc
Hb
SDM
SDP
Hc
Hb
(sel/mm3)
(sel/mm3)
(%)
(g%)
(sel/mm3)
(sel/mm3)
(%)
(g%)
5
-
-
18.18
4.3
-
9.12x106
22.22
7.9
6
-
-
79.6
8.8
2.43x106
1.459x107
20.4
7
7
1.57x106
1.775x107
24.53
8
-
-
25
12
8
-
-
21.57
10.8
3.47x106
2.78x106
27.66
5.6

           

            Berdasarkan tabel 1 diatas, pada ikan patin nilai SDM dan SDP tertinggi terdapat pada ikan sampel kelompok 7 dengan nilai 1.57x106 (sel/mm3) dan 1.775x107 (sel/mm3). Nilai Hc tertinggi kelompok 6 yaitu 79,6 % dan Hb tertinggi kelompok 8 yaitu 10.8 g%. Sedangkan pada ikan nila nilai SDM tertinggi terdapat di sampel ikan kelompok 8 yaitu 3.47x106 (sel/mm3), nilai SDP tertinggi kelompok 6 yaitu 1.459x107 (sel/mm3), Hc tertinggi pada kelompok 8 yaitu 27,66 % dan nilai Hb tertinggi pada kelompok 7 yaitu 12 g%.

 

3.2 Pembahasan

            Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket. Darah mengalir diseluruh tubuh dan berhubungan langsung dengan sel-sel yang ada dalam tubuh. Darah terbentuk dari beberapa unsur, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih dan keping darah. Plasma darah merupakan komponen terbesar dalam darah. Hampir 90% bagian dari plasma darah adalah air.plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari-sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ketempat pembuangan. Komponen lain adalah sel darah merah dan sel darah putih, sel darah merah mengandung banyak hemoglobin yang dibentuk dalam hati dan sumsum merah pada tulang pipih sedangkan sel darah putih dibentuk pada sumsum merah dan kelenjar limpa yang berfungsi melawan kuman dan bakteri yang masuk kedalam tubuh (Fadhil et al, 2009).

            Parameter darah menjadi salah satu indikator adanya perubahan kondisi pada kesehatan ikan, baik karena faktor infeksi akiat mikroorganisme atau karena faktor non infeksi oleh lingkungan, nutrisi dan genetik. Warna merah dari darah segar disebabkan adanya hemoglobin dalam sel darah merah (Dellman dan Brown, 1989 dalam Prasetyo et al, 2008).

            Eritrosit pada ikan merupakan sel yang terbanyak jumlahnya. Ukuran eritrosit ikan patin adalah 10×11 µm hingga 12×11 µm, dengan diameter inti 4-5 µm. Jumlah eritrosit normal dalam darah ikan patin adalah 3,18×106 sel/ml (Chinabut et al, 1991 dalam Abdullah, 2008). Total eritrosit tertinggi terdapat pada kelompok 7 yaitu 1.57x106 (sel/mm3). Berdasarkan literature, nilai eritrosit ikan patin termasuk rendah. Rendahnya jumlah eritrosit menandakan ikan yang di uji menderita anemia dan kerusakan organ ginjal. (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Abdullah, 2008).

            Leukosit pada ikan patin berbentuk lonjong sampai bulat, tidak berwarna dan jumlahnya berkisar antar 20.000 - 150.000 sel/mm3 (Chinabut et al, 1991 dalam Abdullah, 2008). Hasil perhitungan total leukosit tertinggi terdapat pada kelompok7 yaitu 1.775x107 (sel/mm3). Berdasarkan literature, nilai leukosit pada ikan patin sangat tinggi jika di bandingkan dengan keadaan normalnya. Hal ini dapat dinyatakan bahwa ikan patin kelompok 7 sedang terserang penyakit. Kenaikan ini berkaitan dengan pertahanan seluler yang mengingindikasikan adanya gejala klinis yang sedang di alami oleh ikan (Handayani dkk, 2011).        Hematokrit adalah perbandingan antara volume sel darah dengan plasma darah (Sasradipraja et al, 1989 dalam Abdullah, 2008). Abdullah (2008) menyatakan bahwa kisaran nilai hematokrit ikan patin pada kondisi normal sebesar 30,8 - 45,5. Kadar hematokrit ikan patin tertinggi terdapat pada kelompok 6 yaitu 79,6 %. Sedangkan kadar hematokrit terendah terdapat pada kelompok 5 yaitu 18,18 %. Nilai hematokrit yang kurang dari 22% menunjukan ikan mengalami anemia (Gallaugher et al, 1995 dalam Abdullah, 2008), sedangkan menurut Nabib dan Pasaribu (1989) dalam  Prasetyo (2008) bahwa nilai hematokrit darah ikan berkisar 5 – 60%, hematokrit di bawah 30% menunjukan defisiensi eritrosit. Berdasarkan literature, nilai hematokrit ikan patin termasuk tinggi. Apabila ikan terkena penyakit atau nafsu makan menurun maka nilai hematokrit darah menjadi lebih rendah (Delman and Brown, 1989 dalam Prasetyo 2008). maka dapat dinyatakan bahwa ikan lele kelompok 6 terserang anemia dan defisiensi eritrosit sesuai pernyataan diatas.

            Hemoglobin adalah suatu protein dalam eritrosit yang terdiri protoporfirin, besi dan oksigen (sastradipradja et al, 1989 dalam Prasetyo, 2008). Kadar hemoglobin normal ikan patin adalah 12 – 14 Hb/100 ml (Bastiawan et al, 2001 dalam  Alamanda et al, 2007). Hasil praktikum menunjukan kadar hemoglobin ikan patin tertinggi terdapat pada kelompok 8 yaitu 10.8 g%. Sedangkan kadar hemoglobin terendah terdapat pada kelompok 5 yaitu 4,3 gr%. Berdasarkan literature, hemoghlobin ikan patin termsuk rendah, hal ini menunjukan terjadinya abnormalitas pada kesehatan ikan uji.

            Total eritrosit ikan nila ukuran 15 g normal berkisar antara 30-39 x 105 sel/mm3 (Handayani dkk, 2011). Total eritrosit tertinggi terdapat pada kelompok 8 yaitu 3.47x106 (sel/mm3). Berdasarkan literatur, nilai eritrosit ikan nila termasuk tinggi. Tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Abdullah, 2008).

            Menurut Handayani dkk (2011) rataan kadar hematokrit ikan nila normal berkisar 27,3–37,8% sedangkan kadar hematokrit ikan uji pada kelompok 8 yaitu 27,66 %. Berdasarkan literature diatas, kadar hematokrit ikan nila masih tergolong normal. Kadar hematokrit darah dapat dijadikan sebagai indikasi stres, baik karena faktor lingkungan, penanganan (injeksi) maupun karena infeksi patogen. Faktor penyebab stress tersebut seperti lingkungan dan penanganan ketika pengambilan darah (Handayani dkk, 2011).

            Menurut Handayani dkk (2011) kadar rata-rata Hb ikan nila normal berkisar 6–11,01 (g%) sedangkan kadar Hb ikan uji pada kelompok 7 sebesar 12 9%. Berdasarkan literature kadar Hb ikan uji termasuk tinggi, hal ini terjadi karena rendahnya jumlah sel darah merah. Menurut Handayani dkk (2011) kadar hemoglobin ikan berkaitan dengan anemia dan jumlah sel darah, peningkatan Hb yang diikuti adanya penurunan yang sangat cepat terjadi karena adanya infeksi.

            Selama pelaksanaan praktikum reagen-reagen yang digunakan adalah alcohol, larutan hayem, larutan turk, dan Na sitrat. Alkohol berfungsi sebagai penyumbat luka bekas suntikan, larutan hayem berfungsi untuk membunuh sel darah putih, larutan turk berfungsi membunuh sel darah merah, sedangkan larutan Na sitrat berfungsi sebagai anti koagulan.

            Ikan yang diujikan untuk praktikum mengalami gejala klinis berupa penyakit yaitu dapat dilihat dari penurunan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit. Sedangkan jumlah sel darah putih pada ikan patin meningkat diatas normal, hal ini dikarenakan ikan dalam keadaan stres dan mengalami gejala anemia.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, praktikan sudah bisa melakukan teknik pengukuran dan mengetahui nilai parameter hematologi ikan. Dari hasil praktikum, terjadi penurunan kadar eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan terjadi kenaikan kadar leukosit. Hal ini diduga, ikan terserang penyakit sehingga nilai leukositnya tinggi yang berfungsi dalam proses antibodi.

4.2 Saran

            Untuk praktikum selanjutnya, diharapkan menggunakan sampel darah dari jenis-jenis ikan air laut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Yusuf. 2008. Efektifitas Ekstrak Daun Paci-Paci Leucas lavandulaefolia Untuk Pencegahan Dan Pengobatan Infeksi Penyakit Mas Motile Aeromonad Septicaemia Ditinjau dari Patologi Makro dan Hematologi Ikan Lele Dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

 

Alamanda et al, 2007. Penggunaan metode hematologi dan pengamatan endoparasit darah untuk penetapan kesehatan ikan lele dumbo ( Clarias gariepinus) di kolam budidaya desa mangkubumen boyolali. Jurnal Boidiversitas. 8 : 34 – 38.

 

Fadhil F, Darmadi, Cuncun H. 2009. Menghitung sel darah merah dan sel darah putih pada ikan lele (Clarias gariepinus) http://www.scribd.com/doc/24174751/Menghitung-Sel-Darah-Merah-dan-Sel-Darah-Putih-Pada-Ikan-Lele [10 Maret 2012]

 

Handayani dkk. 2011. Karakteristik dan Petogenitas Streptococcus agalactiae Tipe β-hemolitik dan non-hemolitik pada ikan nila. Jurnal Veteriner, Vol.12 No. 2:152-164

 

Prasetyo AE, Dwi HY, Purwanto. 2008. Efektifitas pengaruh pemberian ekstrak bawang putih untuk pengobatan ikan lele (Clarias sp.) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila . PKM Penulisan Ilmiah, Institut Pertanian Bogor.

PENANGANAN WADAH DAN MEDIA


PENANGANAN WADAH DAN MEDIA
Oleh : Ita Apriani


I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Wadah dalam budidaya merupakan bagian yang sangat penting dan memerlukan penanganan khusus sebelum digunakan. Banyak berbagai wadah budidaya yang digunakan sepeti kolam, tambak, akuarium, maupun bak-bak yang terbuat dari beton atau fiber. Menurut Handayani (2009) dalam budidaya ikan dengan menggunakan kolam, harus dilakukan persiapan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk budidaya. Persiapan kolam meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan dasar kolam, perbaikan saluran air, pemupukan dan pengapuran.

            Air merupakan media bagi ikan hidup untuk tumbuh, berkembang dan melakukan aktifitas. Air yang digunakan dapat berasal dari sungai ataupun laut. Sama halnya seperti wadah, media air pun mempunyai potensi membawa patogen bagi kesehatan ikan.

            Oleh karena itu, perlu adanya perlakuan dalam persiapan wadah dan media sebelum digunakan untuk menghindari masuknya patogen dari awal supaya paraktikum persiapan wadah dan media budidaya melakukan antisipasi masuknya patogen yaitu pada persiapan wadah menggunakan fitofarmaka sebagai desinfektan dan mengaplikasikan teknik penanganan media yang benar.


1.2 Tujuan

            Praktikum ini bertujuan agar paraktikan dapat mengaplikasikan bahan kimia maupun fitofarmaka sebagai desinfektan dalam penaganan wadah budidaya serta teknik penanganan media sebelum digunakan sebagai media hidup bagi ikan.


II. METODOLOGI

 

2.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum yang berjudul Penanganan Wadah dan Media ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 20 Februari 2012 pada pukul 15.00 -18.00 WIB di Ruang Nutrisi, serta pengamatan dilakukan pada hari Selasa tanggal 22 Februari 2012 pada pukul 12.00 s.d 13.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

 

2.2 Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah toples, jarum ose, sikat, busa, cawan petri, pipet serologis, inkubator, korek api, pembakar Bunsen, dan tissue.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah media TSA (Triptic Soy Agar), klorin, PK (KMnO4), formalin, dan kaporit.

 

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Wadah

            Hal pertama yang dilakukan bahan yang digunakan dilarutkan dengan dosis yang telah ditetapkan (contoh ; formalin dengan dosis 100 ppm). Kemudian toples yang digunakan sebelumnya telah dicuci dan dibersihkan dengan air supaya tidak licin. Lalu dilakukan perendaman dengan bahan masing-masing sesuai kelompok yang telah ditentukan dengan perlakuan 15 menit.

            Setelah itu, rendaman tersebut dibuang. Selanjutnya ose diambil yang akan dioleskan pada dinding toples bagian dalam dan digoerskan pada agar TSA. Kemudian inkubasi selama 24 jam. Kegiatan akhir cawan diamati untuk mengetahui ada tidaknya koloni yang terbentuk.

2.3.2 Media

            Kegiatan pertama dilakukan adalah bahan yang digunakan dilarutkan dengan dosis yang telah ditetapkan (contoh ; klorin dengan dosis 100 ppm). Kemudian toples yang digunakan sebelumnya telah dicuci dan dibersihkan dengan air supaya tidak licin. Lalu dilakukan perendaman dengan bahan masing-masing sesuai kelompok yang telah ditentukan dengan perlakuan 15 menit.
            Selanjutnya, ose diambil yang akan dioleskan/dicelupkan pada air yang telah dicampur bahan di dalam toples dan digoerskan pada agar TSA. Kemudian inkubasi selama 24 jam. Kegiatan akhir cawan diamati untuk mengetahui ada tidaknya koloni yang terbentuk.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakuakan, diperoleh data sebagai berikut :

Kelompok
Desinfektan
Dosis (ppm)
Hasil
0’
15’
30’
45’
W
M
W
M
W
M
W
M
5
Formalin
200
−
+
+
−
−
−
−
−
6
Klorin
30
+
−
+
−
+
−
+
+
7
PK
20
−
+
−
−
−
−
−
−
8
Kaporit
60
+
+
−
−
−
−
−
−

Keterangan:

+ = Tumbuh bakteri
− = Tidak tumbuh bakteri


3.2 Pembahasan

            Praktikum mengenai penanganan wadah dan media ini menggunakan bahan-bahan kimia dan fitofarmaka yaitu formalin, kaporit, KMnO4, dan klorin. Kegiatan ini dimaksud untuk mengetahui keefektifan sebagai desinfektan dalam penaganan media dan wadah. Berdasarkan hasil yang didapat bahan kaporit yang dilarutkan 60 ppm paling baik dan efektif membunuh bakteri pada cawan TSA (Triptic Soy Agar). Hal ini sesuai karena menurut Yusuf (2011) diketahui kaporit berfungsi membunuh bakteri, virus, dan kuman dalam air.

            Klorin (Cl2) merupakan gas berwarna kuning kehijauan dengan bau yang menyengat. Menurut Purwakusuma1 (2011) klorin merupakan bahan kimia yang bisa digunakan sebagai pembunuh kuman (desinfektan) di perusahaan-perusahaan air minum seperti PAM atau PDAM. Klorin digunakan pertama kali oleh negara Amerika sebagai desinfektan untuk pengolahan limbah (Cheremisinoff et al., 1981 dalam Harianja, 2005). Tetapi hasil yang didapat dalam praktikum ini tidak sesuai dengan timpus. Hasil menunjukan bahwa klorin 30 ppm kurang efektif membunuh bakteri ditandai dengan ditujukannya hasil positif pada tabel di atas.

            Perlakuan pada bahan PK (Kalium Permanganat) dosis 20 ppm mendapatkan hasil yang cukup baik sebagai desinfektan pembunuh bakteri dan kuman. Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit  dan infestasi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam.  Meskipun demikian untuk pengobatan ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.  Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur.  Meskipun demikian,  penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu,  harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin (Purwokusumo2, 2011).

            Bahan terakhir yang digunakan adalah formalin. Menurut Asrul (2010) formalin (formaldehida) adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet. Formalin dapat berguna sebagai desinfektan karena membunuh sebagian besar bakteri dan jamur (termasuk spora). Hal ini juga digunakan sebagai pengawet dalam vaksin, dimana formalin digunakan untuk membunuh virus dan bakteri yang tidak diinginkan yang mungkin mencemari vaksin selama produksi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahan formalin cukup efektif dalam membunuh bakteri, ditunjukan dengan hasil negative sampai menit terakhir pengujian. Hal ini terjadi karena formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri (Asrul, 2010).


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

            Kegiatan praktikum ini berhasil dimana praktikan dapat mengaplikasikan bahan kimia maupun fitofarmaka sebagai desinfektan dalam penanganan wadah dan media budidaya. Kemudian diketahui berdasarkan dari hasil yang didapat bahan kaporit 60 ppm yang paling efektif membunuh bakteri dan cendawan.


4.2 Saran

            Praktikum selanjutnya sebaiknya menggunakan bahan desinfektan dengan dosis yang beragam, agar tingkat keefektifan dapat lebih diketahui. Kemudian bahan fitofarmaka yang digunakan lebih beragam.

DAFTAR PUSTAKA

 

Asrul. 2010. Pengertian formalin [terhubung berkala] http://dokter-herbal.com/bahaya-formalin.html  (26 Februari 2012)
Handayani, N. 2009. Wadah Budidaya Ikan [terhubung berkala] http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_II_WADAH_BUDIDAYA_IKAN   (26 Februari 2012)
Harianja, Doharni Wina. 2005. Bio-Desinfektan dari Zat Aktif Pemphis acidula sebagai Alternatif Pengganti Klorin dalam Industri Pengolahan Udang. Skripsi. Program Studi Teknologi dan Manajemen        Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu          Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Purwakusuma, W. 2011. Kalium permanganate (PK) [terhubung berkala] http://o-fish.com/HamaPenyakit/pk.php  (26 Februari 2012).

Purwakusuma, W. 2011. Klorin [terhubung berkala] http://o-fish.com/HamaPenyakit/klorin.php  (26 Februari 2012).

Yusuf, M. 2011. Kaporit [terhubung berkala] http://www.saringanair.com/news/3/Takaran-dan-fungsi-kaporit-untuk-penjernih-air  (26 Februari 2012)

7 Juni 2013

Panen Ikan Lele

alhamdulialh penantian selama 2 bulan akhirnya bisa di panen..
inget waktu persiapan, pemeliharaan, dll..
duh asaa gk mau ngulang,, tapi ketika panen terbayar sudah itu semua lelah
1 kata yang bisa di ucap
......ALHAMDULILAH.......

tapi sebelum ita tutup sedikit share nih cara budidaya ikan lele sesuai dengan yang sudah pernah ita lakukan :

#tahap persiapan wadah
  1. kolam dibersihkan dari sampah dan kotoran
  2. pengecekan dinding kolam apa kah ada yang bocor atau tidak
  3. penambalan dinding kolam supaya nanti ketika diisi air tidak rembes

#tahap pengisian air dan treatment
  1. kolam di isi air setinggi min 50 cm
  2. air dibiarkan selama 2 malam sambil di aerasi u/ membuang gas2 beracun dan meningkatkan O2

#tahap penebaran benih
  1. benih yang ditebar ukuran 5-6 cm
  2. kepadatan yang digunakan min 50 e/m2
  3. lakukan aklimatisasi selama 15 menit

#tahap pemeliharaan
  1. pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, sore, malam)
  2. pergantian air 1 minggu sekali 25%
  3. langsung membuang ikan yg mati supaya penyakit tidak menular

#pengobatan penyakit
  1. sakit aeromonas : diobati dengan menggunakan OTC (oxytetrasiclin) 0,5 ppm
  2. sakit jamur : diobati dengan menggunakan MB (metylen blue) 4-5 ppm

#pemicu pertumbuhan
  1. untuk benih : tambahkan Virtachick pada pakan
  2. untuk Pembesaran : tambahkan Vitabrow dan neubro pada pakan 5 gr/kg pakan


mungkin itu yang bisa ita share,, semoga menambah wawasan kita semua
semangaaatt,, semoga bermanfaat
:D

*radar neptunus

15 Mei 2013

HISTOPATOLOGI IKAN


HISTOPATOLOGI IKAN
oleh : Ita Apriani

1. Apa fungsi, komposisi, kelebihan dan kekurangan dari larutan carnoy, davidson, BNF, bouins ? dan larutan mana yang paling efektif ?
Jawab :
-          Larutan Bouins
                        Menurut Jusuf (2009) Larutan fiksatif ini mengandung larutan asam pikrat             jenuh. Asam pikrat merupakan zat berbentuk serbuk bewarna kuning seperti kunyit         dan mudah meledak dalam keadaan kering, sehingga harus disimpan dalam keadaan        lembab. Asam pikrat jenuh dibuat dengan cara melarutkan serbuk asam pikrat dalam        air hingga jenuh (terdapat endapan serbuk pikrat di dasar larutan.
                        Asam pikrat mempresipitasikan protein dengan cara membentuk ikatan pikrat-        protein. Asam pikrat menyebabkan sel darah merah menjadi rusak, seringkali         menghilangkan Fe+3, terutama bila berada dalam jumlah sedikit dan dapat         melindungi RNA dari proses perusakan oleh ensim ribonuklease.

Bubu Gurita


PERANGKAP DAN PENGHADANG (TRAP AND GUIDING BARRIERS)
Bubu Gurita
oleh : ita apriani

Definisi dan Klasifikasi
Bubu gurita adalah salah satu alat yang digunakan untuk menangkap gurita, yang terbuat dari karet ban. Bubu gurita diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps) (Martasuganda 2003).

Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Menurut Martasuganda (2003), bagian-bagian bubu gurita yaitu, badan (body) berbentuk seperti rongga (silinder) yang terbuat dari karet ban, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung. Mulut berbentuk lingkaran, merupakan lubang tempat masuknya gurita ke dalam bubu. Bubu gurita terdiri dari tali dan kawat pengikat, pintu masuk serta penutup bubu. Bahan untuk membuat bubu gurita adalah ban bekas dengan diameter penutup 10 cm dan panjang 40 cm (Martasuganda 2003).

LAMPARA


LAMPARA
oleh : ita apriani

1.         Definisi dan klasifikasi
Menurut Subani dan Barus (1989) mendefinisikan lampara sebagai alat tangkap yang memiliki bentuk yang mirip dengan jaring payang namun masih dilengkapi dengan sebuah cincin. Kantong untuk lampara berbeda dengan kantong jaring payang, yaitu ujungnya tidak lagi lancip (berbentuk kerucut) tetapi lebih cenderung menggelembung. Lampara merupakan salah satu alat penangkapan yang masuk ke dalam kelompok pukat kantong. Lempara termasuk dalam klasifikasi pukat kantong, karena lampara hamper memiliki kantong palsu yang menggelembung (Subani dan Barus, 1989).

10 April 2013

Masalah benih lele ukuran 5-6 cm

selamat pagi menjelang siang,,,
hy sobat, gmn nih kabarnya
baik pastikan!!!
oiya hari ini ita mau share sedikit pengalaman tentang budidaya lele untuk ukuran konsumsi

#1 persiapan wadah
bak atau kolam yang sudah dibersihkan, kemudian di isi air dengan ketinggian min 60cm. setelah itu dilakukan treatmen air dengan cara pemberian aerasi selama 2 hari nonstop

#2 tebar benih
benih yang ditebar diusahakan berukuran 7-8 cm karena ukuran tersebut sudah cukup besar dan cukup kuat untuk menhadapi perubahan lingkungan. jikapun tidak ada ukuran 7-8 maka ukuran 5-6 masih bisa digunakan. namun, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk benih 5-6 cm ini, yaitu perlu dilakukan :
- penyortiran ulang setelah 7-10 hari pemeliharaan
- pemberian pakan ukuran -1 atau remah (comfeed, matahari sakti, pokpan)
- pergantian air min 1 minggu sekali
- treatmen menggunakan obat-obatan
         1) penyakit aeromonas : gunakan OTC dosis 0,5 ppm dalam media pemeliharaan
         2) penyakit jamur         : menggunakan malacyte green
         3) nafsu makan berkurang : penambahan Enrof 2,5 gr/kg pakan

#3 pemberian pakan
untuk minggu pertama dilakukan pemberian pakan secara at satiation (sekenyangnya) dengan frekueunsi 4 kali sehari yaitu pagi, siang, sore dan malam dengan proporsi pemberian makan malam lebih besar dibanding yang sebelumnya.

#4 pencegahan penyakit
agar tidak terserang penyakit, pastikan benih yang ditebar bebas patogen dan tidak membawa penyakit dari hatchery pembenihan. adapun untuk pencegahan, dapat dilakukan pemberian garam pada media pemeliharaan sebelum benih ditebar dengan dosis 0,5 ppt. namun lain hal jika sudah terserang penyakit dan tidak bisa diselamatkan, maka yang harus dilakukan adalah kembali ke point (#2 yaitu tebar benih)
 

15 Maret 2013

Bersyukur

malam sobat...
apa kabar,
alhamdulilah 14 januari ita seminar PKL
kemudian 14 Februari ita seminar penelitian
dilanjut lagi 14 Maret ita sidang
huuah...
rasanya tuh kayak makan jelly trus di emut pake merem,,
Hahaha
legaaaaaaa banget,,
super duper deh
ohiya,, sobat gmn progresnya??? udah selesai penelitian kah?
ayooo semangaaatt
ita tunggu kabar baiknya yaaahhh
Love n Miss U
=D

26 Februari 2013

Asam Manis nananae

i`m into you....
i`m into you....
na na na nae....
na na na nae....
_Jenifer Lopez_
yeaahh,,,itu dia liric yang nemenin aku mlm ini buat ngerjai draf skripsi,, hihi
heyy,,, sapa dulu nih sobat, apa kaaabaaarrr??? lamo tak besuo kito hoho
maff yahh, lama gak posting, sibuk nih *cuih soksib
tapi beneraann,,,sibuk skripsi mksudnya
oiya,,,
sobat udah tau belum,
alhamdulilah tgl 14 Februari kmrin ita udah seminar penelitian lho,,
yeeeyyy,,, tepuk tangaaann *prok,,prok,,prokk
kasih selamat atuuuh,,
hihihi maksa yaa

#duh apa an sih ita dr td ktawa ktiwi mulu, lagi bahagia bgt nih kyknyaa

oke,, kembali ke lebtob (gaya tukul arwana)
langsung ke kabar terbaru nih,, insyaAllah tanggal 14 Maret nanti ita sidang penelitian sobat,,,
woooww,,,, *apa lagi coba\

#trus gw harus bilang jokowooow gtu,,hihi

okee,,,, intinya ita minta dukungan temen2 semua, minta doanya smg lancar, dan minta restunya biar,,,biar,,,biar,,, *eits jgn mikir aneh2 dulu

#biar cepet lulus mksdnya hehe

oke sobat,,, thank banget yaahh udah baca curhatku yang sepertinya gak penting, tapi yaahh lumayanlah buat mengurangi emosi deg2an sebelum sidang haha
thank berat yaahh,,,
i miss u so much
sampai ketemu lagiiiii ......,,,,,,,,,
=D

14 Januari 2013

kabar neptunus

hay nus, apa kabar hari ini? hmm,, berharap semua berjalan dengan baik.
nus hari ini aku ingin bercerita kepadamu,,,semoga kamu tidak pernah bosan dengan cerita hari-hari ku.. ihh koq melow gini sih hahaha :D
emm,,,
enw, btw aku punya cerita banyak hari ini buat kamu nus, mau dengerin gak?? #pasang muka
jadi gini, hari ini aku seneng banget karena bisa membantu teman satu kelasku seminar, ayooo tebak aku bantuin apa????? yaah klo dlm acara seminar apa lagi klo bukan moderator heee...
yuuhuuu,,,, MODERATOR!!
apa sih itu moderator, hmm kamu pasti tau lah nus gak perlu ku jelasin lagi,,, kan kamu agenku yang paling pinter, #hee
disisi lain aku seneng banget bisa bantu mereka, tapi di satu sisi deg-degan juga,, itulho postingan ku semalam, kamu bca gak nus??? pasti baca donk kamu kan agen setiaku,, hihi #PD
nus,,, singkat cerita temenku yang aku moderatorin, mereka pada sukses seminarnya, semoga seninarku juga sukses ya nus!! kamu doain aku yah,,,ini yang terbaik untuk aku dan keluarga, serta sahabatku, termasuk kamu agen setiaku nus,,, pura-pura ninja selalu jaya.
oiya,,,
nus, tadi aku barusan check up ke dokterku yang dulu,, alhamdulilah banyak perubahan, yey,,,,,, itu semua berkat doamu nus, terima kasih ya,, kamu selalu menjadi pendengar baikku. dan satu lagi nus, obatnya udah gak sebanyak dulu lagi,,, jadi aku gak perlu minum oabat 3 kali sehari, aku mau sembuh nus,, aku ingin bebas dari rasa sakit itu,
nus,, seandaniay kamu bisa rasain, kamu mau kn berbagi denganku. yahh meskipun hanya berbagi cerita, itu sudah lebih dari cukup bagiku, nus,,,, terima kasih untuk kebersamaannya disaat aku sedih maupun aku senang, kita akan jadi sahabat sejati selamanya...
oiya,,, nanti kita sambung lagi ya nus, aku yakin kamu masih tetap setia menunggu cerita2ku esok kn??
hihihi,,, aku senang kamu bisa tertawa bersamaku,,
#agen neptunus, Pura-pura ninja
=)

13 Januari 2013

deg deg an

hay sobat,,, selamat malam,, udah pada istirahat belum nih?? hmm mau curhaattt...
sahabat tau gak,, besok hari kamis ita seminar!!!
hihihi bahagia sih tapi deg deg an nya gak bis adi ilangin nih padahal masih hari senin, tapi ..ya gtu deh gak bisa di ungkapkan hee
eh iya, sahabat apa kabar?? lama ya kita gak cerita2,,, mmm maklum ita banyak agenda *cuuihh sok sibuk
eh tapi beneran lho ,,, suer sumpah ciuz hihi #alay
iya bener gak bohong, jadi waktu itu ita ada kegiatan filtrip terpadu dari waduk jatiluhur trus nyambung ke balai yg di cijengkol,, hari besoknya langsung cus ke karawang. tuuh capek bnget kn...
nah seminggu setelah itu, ita ada filtrip lagi ke anyer trus trip langsung ke carita,, hihi #emang doyan jalan2 ya kayaknya gw hee
well semuanya sdh terlaksana, sekarang waktunya seminar,, mmm udah siap sih tapi kira2 baru 80% lh , 20%nya tinggal doa dan latihan,,, do`ain ya sahabat semoga seminar ita kali ini sukses dan lancar.
oiya udah malem ngantuk nih,,,, tidur dulu ya sobat,
sampai ketemu besok pagi,,
see u
byee...... =)

24 November 2012

Lari Pagi (Joging)

aktivitas hari ini cukup banyak dan menguras energi.. huuh bangun pagi seperti biasa prayer subuh dulu, abis gitu joging ke gymnasium ma salah satu temen deket namanya peni,, berhubung hari ini gw ada jadwal piket so terpaksalah gw piket kosan dulu.. udah sengaja tau buat bangun pagi tapi tetep aja telat hahaha ... dasar gw yaaa, klo gak telat n mepeeet banget  bukan gw namanya. #dih apaan sih gtu ja dibanggain coba..
well.. lanjut nih, setelah janjian 5.30 cus ke kosan full house buat nganterin training, sttttt cerita dikit nih ya sobat, temen gw kgk punya training ceritanya buat joging wkwkwk..
but, no problem lah secara gw kan abis nglondri jadi masih bnyak cadangan training bersih hahaha :D
eh, lanjut cerita kita joging nih,, tapiiiiii pas di jalan ternyata gak sengaja liat jajanan di jalan. ealah joging rencana mau biar sehat  tapi jajan sembarangan.
enyway...
30 menit berlalu, muter2 lapangan gym, cukup capek ternyata,,,lari nya cuma 1 putaran 4 putaran jalan2 hahahaha :D,, dasar gw ya, ni mau joging apa jalan2 doank, ckckck
setelah jlag-jlig-jluk (joging),,, akhirnya gw pulang nih dengan keringat bercucuran asa abis kerja berat :p sampailah pada warung jajanan yang tadi di samperin, haaha :D (masih keinget aja)
yaudah beli gethuk 1 potong ma ager2 santen, huum nyam,,nyam,,nyam,, segeerr
pulang2 gak bawa makanan kurang lengkap rasanya, mampir deh ke warung nasi uduk.. ajiibb pagi2 sarapan nasi uduk pokoke uenaakk tenan !!
sampai kosan jm 08.00, rencana pengen leha-leha sambil menikmati sebungkus gethuk yang barusan di beli. ehhhhh..........baru sadar hari ini ada agenda mimpin sidang Rapat Umum di kampus,, GUBRAK... wuuuuuuaaaaaa
untung aja semalam udah disiapin berkas2 sidang n surat ketetapannya udah di buat, heeuuhh,,, klo gak mati lh gw, sidang di mulai jm 09.00 mau apa di kata, hahaha
so,, tanpa ba-bi-bu langsung ke kamar mandi byuurr...byuurr..byuurr secepat bak kilat untung gak lupa pake sabun wkwkwk
abis mandi rencana mau dandan dulu biar keliatan kece di depan umum *kn mau mimpin sidang ceritanya
tapiiii...itu diurungkan, baru juga mau ambil bedak tiba2 HP bunyi,,, dilayar tertera ketua himakua menelpon, waduuuuuhh shiit man gw blm ngapa2in bru abis mandi boy,,,\
oke slow down,,, pencet tombol terima *angkat telefon
dan #nada nyaring memekakkan telinga berbunyi
# itaaaaaaaaaaaa dimanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa??????????? @#%^&($%#@!
# ampuuuuuunnn iyaa gw masih di kosan, gw lupa ada sidang rapat. ini gw bentar lagi nyampe kampus koq,, bentaaaarr lagi,
hahahah padahal gw baru abis mandi tau,, xixixixi #nakal juga
dan,, setelah dirasa cukup ambil tas, obat, labtob, jam tangan, uang secukupnya, dan tak lupa rundown acara... hahaha, samber semua jadi kelimpungan. eh kunci kosan mana?? mak jan ketinggalan di kamar,,.ternyata keluar nyolong gak pake kunci lagi, duuuhhh gw ribet ya. maaf deh hee
itu lah cerita hari ini, sebagai pelajaran lain kali kalau punya agenda usahakan dicatet ya biar gak kyk gw nih,,,udah agenda banyak pelupa lagi, kan repot jadinya. hihihi... see u
 

8 Oktober 2012

Penyuntikan Ikan Patin

PENYUNTIKAN INDUK PATIN
oleh : Ita Apriani


Patin siam bukan ikan asli Indonesia. Kebanyakan ikan-ikan pendatang itu sulit memijah secara alami, karena adanya perbedaan kondisi lingkungan budidaya dengan habitatnya. Cara terbaik hanya dengan pemijahan buatan, yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang, kemudian telurnya dikeluarkan dengan memijit perutnya.

Ada banyak hormon yang dapat digunakan, diantaranya ovaprim. Tetapi di beberapa daerah bahan itu sulit diperoleh, karena jarang orang yang menjualnya. Untuk memperolehnya harus menghubungi balai-balai penelitian atau bisa juga menghubungi penjualnya. Pada halaman webblog tercantum nomor handphone penjual ovaprim, anda tinggal menghubunginya.

Sebagai penggantinya dapat digunakan larutan kelenjar hipofisa ikan mas, karena ikan itu mudah diperoleh. Namun bahan ini harus dibuat terlebih dahulu. Penyuntikan dengan larutan kelenjar hipofisa dilakukan sebanyak 2 dosis, atau satu kilo induk betina memerlukan 2 kilo ikan mas. Sedangkan penyuntikan dengan ovaprim dilakukan sebanyak 0,6 ml ovaprim.

7 Oktober 2012

Ciri-Ciri Induk Ikan Patin yang Baik

Ciri-Ciri Induk Ikan Patin yang Baik
Oleh : Ita Apriani


Budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus) dapat membedakan antara induk jantan dan betina patin siam, tidaklah cukup bagi seorang pembudidaya, karena tidak semua patin siam itu baik untuk dijadikan induk. Sedangkan untuk mendapatkan benih-benih yang berkualitas baik sangat tergantung dari kualitas induknya. Berikut inilah tip untuk membedakan antara induk yang berkualitas baik dan induk yang berkualitas kurang baik :

Tanda-tanda induk betina yang baik :

a. Saat berumur 3 tahun memiliki berat minimal 2 kg.

b.Mulai bertelur pada umur 3 tahun, tidak bertelur muda

c. Bentuk tubuhnya normal, atau tidak cacat

d. Bertubuh gemuk, atau tidak kurus

e. Kepala relatif kecil

f. Tidak luka, dan sehat

g. Bila diraba, kulitnya halus, atau tidak kasar

h. Respon terhadap pakan tambahan
 

6 Oktober 2012

Siklus Hidup dan Perkembangbiakan Ikan Patin

SIKLUS HIDUP DAN PERKEMBANG BIAKAN IKAN PATIN
oleh : Ita Apriani


patin siam (jambal siam) melewati enam fase kehidupan, yaitu telur, larva, benih, konsumsi, calon induk, dan induk. patin siam didatangkan ke indonesia pada tahun 1972. kehadiran ikan ini disambut baik oleh masyarakat indonesia, terutama masyarakat yang tinggal di sumatra dan kalimantan. penelitian mengenai perkembangbiakan patin siam telah dimulai sejak tahun 1976 dan pada tanggal 16 oktober 1977 mulai dilakukan pembiakan dengan teknik hipofisasi dengan donor kelenjar hipofisa dari ikan sejenis (ling et al., 1966 ; hardjamulia, et al., 1975).

kematangan gonad induk jantan dan betina berbeda. kematangan induk jantan terjadi lebih dini dari pada induk betina. induk jantan mencapai kematangan gonadnya sekitar umur dua sampai tiga tahun, sedangkan induk betina pada umur tiga sampai empat tahun (buchanan, 1983). induk betina yang matang gonad ditandai dengan membesarnya bagian lateral atau perut dekat urogenital. pada umumnya induk betina tersebut mempunyai berat tubuh bervariasi dari 2.669 gram sampai 6.100 gram dengan panjang tubuh lebih kurang 59 cm. induk jantan yang matang ditandai dengan keluarnya sperma berwarna putih susu jika perutnya dipijit (sar, 1985).